Minggu, 19 Mei 2013

Interpersonal Skill



Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.



Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan.
Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya.
Pengertian Konsep Diri
Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7).
Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya.
Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak.
Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.
Menurut William D. Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri (self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan.
Konsep dirididefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).
Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

Calhoun dan Acocella (dalam Syahputra, 2005) berpendapat bahwa konsep diri seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor keluarga yaitu orang tua yang merupakan kontak sosial yang paling awal dan paling kuat dialami oleh individu. Sehingga orang tua menjadi sangat kuat pengaruhnya terhadap anak karena apa yang dikomunikasikan oleh orang tua pada anak, akan cepat ditanggap oleh anak daripada informasi lain yang diterima anak sepanjang hidupnya. Sedangkan Azwar (dalam Jamaluddin, 1997) berpendapat bahwa konsep diri seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu orang lain dianggap penting dan orang yang dianggap persetujuannya bagi setiap gerak-geriknya dan pendapatnya. Seseorang yang ingin dikecewakan akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap seseorang terhadap sesuatu.

Rahmat (dalam Wijaya 2000) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah:

a. Orang Lain
Tidak semua orang memiliki pengaruh yang sama pada masing-masing diri individu, tetapi yang paling berpengaruh pada diri individu tersebut adalah orang-orang terdekat seperti orang tua, saudara dan orang yang tinggal satu rumah dengan individu yang bersangkutan karena memiliki hubungan yang emosional.

b. Kelompok Rujukan
Setiap kelompok memiliki norma-norma tertentu dimana ada kelompok yang secara emosional mengikat individu dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri. 

Menurut Hurlock (dalam Wijaya 2000) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah:

a. Usia Kematangan
    Individu yang matang lebih awal yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa, mengembangkan konsep diri yang menyenangkan. Individu yang matang terlambat yang diperlakukan seperti anak-anak mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan.
 b. Penampilan Diri
     Penampilan diri yang berbeda membuat individu merasa rendah diri meskipun perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. Setiap cacat fisik merupakan hal yang memalukan yang mengakibatkan perasaan rendah diri.sebaliknya daya tarik fisik menimbulkan penilaian yang menyenangkan tentang ciri kepribadian dan menambah dukungan sosial.
c. Jenis Kelamin
   Jenis Kelamin dalam penampilan diri, minat dan prilaku membantu individu mencapai konsep diri yang baik. Jika membuat individu sadar diri dan hal ini memberi akibat buruk pada prilakunya.
d. Nama Dan Julukan
    Individu merasa malu jika teman-teman sekelompok menilai namanya buruk atau jika mereka memberikan julukan bernada cemooh.  
e. Hubungan Keluarga
    Seseorang yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan anggota keluarga mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama. Bila tokoh ini sesama jenis individu akan tergolong untuk mengembangkan konsep diri yang layak untuk dirinya.
f. Teman Sebaya
    Teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian individu dalam 2 cara yang pertama, konsep diri individu merupakan cerminan dari anggapan mengenai konsep teman tentang dirinya. Kedua, ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui oleh kelompoknya.
g. Kreatifitas
    Individu yang semasa kanak-kanak didorong agar kreatifitas dalam melakukan tugas-tugas akademik, mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang mempengaruhi konsep dirinya.
h. Cita-cita
    Bila cita-cita yang tidak realistis, ia akan mengalami kegagalan. Sedangkan individu yang memiliki cita-cita yang realistis akan menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasan diri yang lebih besar untuk memberikan konsep diri yang baik.
            Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah: keluarga dan lingkungan. Keluarga adalah orang tua yang berpengaruh besar terhadap perkembangan konsep diri individu. Kemudian lingkungan sangat berpengaruh, terutama bagi orang yang mempunyai arti khusus bagi diri individu, orang lain, kelompok rujukan, usia kematangan, penampilan diri, jenis kelamin, nama dan julukan, hubungan keluarga, teman sebaya, kreatifitas, cita-cita.
Pertemuan ke 5
B. ATRAKSI INTERPERSONAL
B. I      Pengertian Atraksi Interpersonal
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Makin tertarik kita dengan orang lain maka semakin besar kecenderungan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain.
B. II    Faktor-faktor penyebab timbulnya Atraksi Interpersonal, antara lain:
  1. Faktor personal
Faktor personal sangat menentukan timbulnya atraksi sesorang dengan orang lain. Adapun faktor-faktor personal yang mempengaruhi atraksi interpersonal, adalah sebagai berikut:
1. Kesamaan karakteristik personal
Kesamaan karakteristik personal ditandai dengan kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat/status sosisal ekonomi, agama, ideologi, dan lain-lain. Mereka yang memiliki kesamaan dalam hal-hal tadi, cenderung menyukai satu sama lain.
2. Tekanan emosional (stres)
Orang yang berada di bawah tekanan emosional, stres, bingung, cemas dan lain-lain akan menginginkan kehadiran orang lain untuk membantunya, sehingga kecenderungan untuk menyukai orang lain semakin besar.
3. Harga diri yang rendah
Orang yang rendah diri cenderung mudah untuk menyuaki orang lain. Orang yang merasa penampilan dirinya kurang menarik akan mudah menerima persahabatan dari orang lain.
4. Isolasi sosial
Sebagai makhluk sosial, manusia mungkin tahan untuk hidup terasing selama beberapa waktu, namun tidak untuk waktu yang lama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial sangat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain.



  1. Faktor-faktor situasional. Adapun factor-faktor situasional yang dapat memicu timbulnya atraksi interpersonal, antara lain:
    1. Daya tarik fisik (physical attractiveness)
    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik fisik seseorang sering menjadi penyebab utama atraksi interpersonal. Mereka yang berpenampilan cantik menarik biasanya lebih mudah mendapat perhatian dan simpati orang.
    2. Ganjaran (reward)
    Pada umumnya seseorang akan menyukai orang yang memberikan ganjaran pada dirinya. Ganjaran bisa berupa bantuan, dorongan moral, pujian atau hal-hal yang meningkatkan harga diri kita.
    3. Familiarity
    Seseorang atau hal-hal yang sudah kita kenal dan akrab dengan kita biasanya lebih disukai daripada hal-hal atau orang yang masih asing bagi kita. Contohnya adalah dengan penerapan teknik repetisi dalam iklan agar kita semakin akrab dengan produk yang diiklankan sehingga akhirnya menyukai produk tersebut.
    4. Kedekatan (proximity) atau closeness.
    Hubungan kita dengan orang lain tergantung seberapa dekat kita dengan orang tersebut. Sebagai contoh, sejumlah kasus menunjukkan bahwa orang lebih menyukai orang lain berdekatan tempat tinggal dengannya.
    5. Kemampuan (competence)
    Terdapat kecenderungan bahwa seseorang lebih menyukai orang lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi atau lebih berhasil dalam kehidupannya daripada dirinya.
Pertemuan ke 6
Hambatan Untuk Mendengarkan Efektif: Meningkatkan Keterampilan Mendengarkan Dengan Mengatasi Hambatan-Hambatan

Ada banyak hambatan untuk mendengarkan secara efektif. Beberapa hal yang tampaknya normal untuk Anda benar-benar mungkin menjadi faktor (s) seperti mengapa Anda t dapat tampaknya benar mendengarkan. Tapi begitu Anda mendapatkan kesadaran, Anda dapat dengan mudah menyingkirkan hambatan untuk mendengarkan secara efektif. Lihat bagaimana Anda dapat mengambil instruksi yang lebih baik, ingat rincian lebih lanjut dan umumnya menjadi pendengar yang lebih baik melalui tips ini:
1) Kebisingan Drown Out.
Siapapun yang telah diberi karunia Pendengaran memiliki potensi untuk menjadi pendengar yang baik. Sayangnya, tidak semua orang benar-benar bekerja pada potensi mereka. Mereka mengambil kemampuan mereka mendengarkan untuk diberikan dan terkejut ketika mereka menyadari bahwa mereka telah mendengar salah atau bahwa mereka telah melewatkan sesuatu yang penting. Hal ini disebabkan salah satu hambatan untuk mendengarkan secara efektif, yang adalah kebisingan. Kebisingan benar-benar dapat mengacu pada suara keras dan mengganggu di latar belakang. Setelah semua, akan sulit untuk mendengarkan dengan seksama ketika ada klakson mobil di setiap arah. Tapi lain kebisingan, dan salah satu yang menyajikan masalah yang lebih besar, adalah kebisingan di kepala kita sendiri. Kebisingan, dalam hal ini, berarti pikiran keras dan mengganggu. Jika Anda t dapat fokus pada pendengar, Anda tidak akan dapat mendengarkan secara efektif.
2) Don t Rush Dengan Opini Anda Sendiri.
pendapat adalah hal yang baik. Mereka mewakili pilihan, keragaman dan pemikiran independen. Namun, pendapat juga dapat menjadi salah satu hambatan untuk mendengarkan secara efektif. Bagaimana? Katakanlah, seorang teman menceritakan kisah bagaimana mereka dirampok kemarin. Seperti dengungan kata-kata di, Anda tiba-tiba menemukan diri Anda berpikir bahwa mereka harus melakukan ini atau itu sebagai gantinya. Teman Anda belum bahkan mencapai klimaks dari cerita dan pementasan sudah Anda kembali percakapan pribadi Anda di dalam kepala Anda. Ketika Anda membiarkan opini Anda sendiri mendominasi Anda, Anda cenderung kehilangan detail-detail penting lainnya teman Anda mungkin berbagi.
3) Set Tepat Lingkungan.
Salah satu hambatan diabaikan untuk mendengarkan yang efektif adalah lingkungan. Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi perjalanan dengan cara suara dan suara-suara yang diterima. Jika ruangan atau auditorium tidak dibangun untuk pidato atau forum publik, Anda mungkin memiliki masalah dengan gema. Jika ruangan terlalu dingin, orang-orang mungkin jatuh tertidur. Jika ruangan terlalu dihiasi, penonton mungkin menjadi terganggu. Ambil semua faktor ini menjadi pertimbangan sebelum perencanaan acara apapun. Jika Anda seorang anggota penonton, cobalah duduk di depan di mana Anda dapat memiliki kontak mata dengan pembicara. Hambatan untuk mendengarkan yang efektif adalah bukan sesuatu yang t dapat menangani. Selama Anda tahu di mana masalahnya terletak, Anda akan memiliki kesulitan memperbaiki situas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar