Minggu, 16 September 2012

tugas kesehatan


 ASUHAN KEPERAWATAN LABIOSKIZIS/LABIOPALATOSKIZIS 

A.DEFINISI Labio/plato skisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah. Palatoskisi adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu. B.ETIOLOGI FAKTOR HERIDITER Sebagai faktor yang sudah dipastikan. Gilarsi : 75% dari faktor keturunan resesif dan 25% bersifat dominan. 1.Mutasi gen. 2.Kelainan kromosom. FAKTOR EKSTERNAL / LINGKUNGAN : 1.Faktor usia ibu 2.Obat-obatan. Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin, Fenasetin, Sulfonamid, Aminoglikosid, Indometasin, Asam Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid 3.Nutrisi 4.Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella 5.Radiasi 6.Stres emosional 7.Trauma, (trimester pertama) C.PATOFISIOLOGI Kelainan sumbing selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit. Berbeda pada kelainan bibir yg terlihat jelas secara estetik, kelainan sumbing langit2 lebih berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan, minum, dan bicara. Pada kondisi normal, langit2 menutup rongga antara mulut dan hidung. Pada bayi yang langit2nya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat menelan bayi bisa tersedak.Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saat menghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi kurang dan jelas berefek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya selain juga mudah terkena infeksi saluran nafas atas karena terbukanya palatum tidak ada batas antara hidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke telinga. D.MANIFESTASI KLINIS Pada labio Skisis: 1.Distorsi pada hidung 2.Tampak sebagian atau keduanya 3.Adanya celah pada bibir Pada palato skisis: 1.Tampak ada celah pada tekak (uvula), palato lunak, dan keras dan atau foramen incisive 2.Adanya rongga pada hidung 3.Distorsi hidung 4.Teraba aa celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksa dengan jari 5.Kesukaran dalam menghisap atau makan E.KOMPLIKASI 1.Gangguan bicara dan pendengaran 2.Terjadinya otitis media 3.Asirasi 4.Distress pernafasan 5.Risisko infeksi saluran nafas 6.Pertumbuhan dan perkembangan terhambat F.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1.Foto rontgen 2.Pemeriksaan fisisk 3.MRI untuk evaluasi abnormal G.PEMERIKSAAN TERAPEUTIK 1.Penatalaksanaan tergantung pada beratnya kecacatan 2.Prioritas pertama adalah pada teknik pemberian nutrisi yang adekuat 3.Mencegah komplikasi 4.Fasilitas pertumbuhan dan perkembangan 5.Pembedahan: pada labio sebelum kecacatan palato; perbaikan dengan pembedahan usia 2-3 hari atua sampai usia beberapa minggu prosthesis intraoral atau ekstraoral untuk mencegah kolaps maxilaris, merangsang pertumbuhan tulang, dan membantu dalam perkembangan bicara dan makan, dapat dilakukan sebelum penbedahan perbaikan. 6.Pembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun, tergantung pada derajat kecacatan. Awal fasilitaspenutupan adalah untuk perkembangan bicara. H.PENATALAKSANAAN Pada bayi yang langit2nya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat menelan bayi bisa tersedak.Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada saat menghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi kurang. Untuk membantu keadaan ini biasanya pada saat bayi baru lahir di pasang: 1.Pemasangan selang Nasogastric tube, adalah selang yang dimasukkan melalui hidung..berfungsi untuk memasukkan susu langsung ke dalam lambung untuk memenuhi intake makanan. 2.Pemasangan Obturator yang terbuat dr bahan akrilik yg elastis, semacam gigi tiruan tapi lebih lunak, jd pembuatannya khusus dan memerlukan pencetakan di mulut bayi. Beberapa ahli beranggarapan obturator menghambat pertumbuhan wajah pasien, tp beberapa menganggap justru mengarahkan. Pada center2 cleft spt Harapan Kita di Jakarta dan Cleft Centre di Bandung, dilakukan pembuatan obturator, karena pasien rajin kontrol sehingga memungkinkan dilakukan penggerindaan oburator tiap satu atau dua minggu sekali kontrol dan tiap beberapa bulan dilakukan pencetakan ulang, dibuatkan yg baru sesuai dg pertumbuhan pasien. 3.Pemberian dot khusus dot khusus, dot ini bisa dibeli di apotik2 besar. Dot ini bentuknya lebih panjang dan lubangnya lebih lebar daripada dot biasa; tujuannya dot yang panjang menutupi lubang di langit2 mulut; susu bisa langsung masuk ke kerongkongan; karena daya hisap bayi yang rendah, maka lubang dibuat sedikit lebih besar. operasi, dengan beberapa tahap, sebagai berikut : 1. Penjelasan kepada orangtuanya 2. Umur 3 bulan (rule over ten) : Operasi bibir dan alanasi(hidung), evaluasi telinga. 3. Umur 10-12 bulan : Qperasi palato/celah langit-langit, evaluasi pendengaran dan telinga. 4. Umur 1-4 tahun : Evaluasi bicara, speech theraphist setelah 3 bulan pasca operasi 5. Umur 4 tahun : Dipertimbangkan repalatoraphy atau/dan Pharyngoplasty 6. Umur 6 tahun : Evaluasi gigi dan rahang, evaluasi pendengaran. 7. Umur 9-10 tahun : Alveolar bone graft (penambahan tulang pada celah gusi) 8. Umur 12-13 tahun : Final touch, perbaikan-perbaikan bila diperlukan. 9. Umur 17 tahun : Evaluasi tulang-tulang muka, bila diperlukan advancementosteotomy LeFORTI I.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh atau tidak efektif dalam meneteki ASI b/d ketidakmampuan menelan/kesukaran dalam makan sekunder dari kecacatan dan pembedahan. 2.Risiko aspirasi b/d ketidakmampuan mengeluarkan sekresi sekunder dari palato skisis 3.Risiko infeksi b/d kecacatan (sebelum operasi) dan atau insisi pembedahan 4.Kurang pengetahuan keluarga b/d teknik pemberian makan, dan perawatan dirumah 5.Nyeri b/d insisi pembedahan J.INTERFENSI 1.Nutrisi yang adekuat dapat dipertahankan yang ditandai adanya peningkatan berat badan dan adaptasi dengan metode makan yang sesuai 2.Anak akan bebas dari aspirasi 3.Anak tidak menunjukan tanda-tanda infeksi sebelum dan sesudah operasi, luka tampak bersih, kering dan tidak edema. 4.Orang tua dapat memahami dan dapat mendemonstrasikan dengan metode pemberian makan pada anak, pengobatan setelah pembedahan dan, harapan perawat sebelum dan sesudah operasi. 5.Rasa nyaman anak dapat dipertahankan yang ditandai dengan anak tidak menangis, tidsk lsbil dan tidak gelisah. K.IMPLEMENTASI 1.Mempertahankan nutrisi adekuat 1.Kaji kemampuan menelan dan mengisap 2.Gunakan dot botol yang lunak yang besar, atau dot khusus dengan lubang yang sesuai untuk pemberian minum 3.Tempatka dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah mendorong makan/minuman kedalam 4.Berikan posisi tegak lurus atau semi duduk selama makan 5.Tepuk punggung bayi setiap 15ml 30ml minuman yang diminum, tetapi jangan diangkat dot selama bayi menghisap 6.Berikan makan pada anak sesuai dengan jadwal dan kebutuhan 7.Jelaskan pada orang tua tentang prosedur operasi, puasa 6 jam dan pemberian infus lainnya 8.Prosedur perawatan setelah operasi, ranngsangan untuk menelan ata menghisap, dapat menggunakan jari-jari dengan cuci tangan yang bersih atau dot sekitar mulut 7-10 hari, bila sudah toleran berikan minuman pada bayi, dan minuman atau makanan lunak untuk anak sesuai dengan diitnya. 2.Mencegah aspirasi dan obstruksi jalan napas 1.Kaji status pernafasan selama pemberian makan 2.Gunakan dot agak besar, rangsang hisap dengan sentuhan dot pada bibir 3.Perhatikan posisi bayi saat memberi makan, tegak atau setengah duduk 4.Beri makan secara perlahan 5.Lakukan penepukan punggung setelah pemberian minum 3.Mencegah infeksi 1.Berikan posisi yang tepat setelah makan, miring kekanan kepala agak sedikit tinggi supaya makanan tertelan dan mencegah aspirasi yang dapat berakibat pnemonia 2.Kaji tanda-tanda infeksi, termasuk drainage, bau dan demam. 3.Lakukan perawatan luka dengan hati-hat dengan menggunakan teknik steril 4.Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat yang tidak steril, misalnya alat tenun dan lainnya. 5.Perhatikan perdarahan, edema, dan drainage 6.Hindari gosok gigi pada anak kira-kira 1-2 minggu 4.Mempersiapkan orang tua untuk menerima keadaan bayi/anak dan perawatan dirumah 1.Jelaskan prosedur operasi sebelum dan sesudah operasi 2.Ajarkan pada ornag tua dalam perawatan anak ; cara pemberian makan/minum dengan alat, mencegah infeksi, dan mencegah aspirasi, posisi pada saat pemberian makan/minum, lakukanpenepukan punggung, bersihkan mulut setelah makan 5.Meningkatkan rasa nyaman 1.Kaji pola istirahat bayi dan kegelisahan 2.Tenangkan bayi 3.Bila klien anak, berikan aktivitas bermain yang sesuai dengan usia dan kondisinya 4.Berikan analgetik sesuai program Labioskizis, Labiopalatoskizis, Atresia Esofagus, Atresia Rekti BAB I LABIOSKIZIS DAN LABIOPALATOSKIZIS A. PENGERTIAN Labioskizis dan Labiopalatoskizis yaitu kelainan kotak palatine (bagian depan serta samping muka serta langit-langit mulut) tidak menutup dengan sempurna. Labioskizis dan labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa perkembangan embrional di mana bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. Belahnya belahan dapat sangat bervariasi, mengenai salah satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus dan palatum durum serta molle. Suatu klasifikasi berguna membagi struktur-struktur yang terkena menjadi : 1. Palatum primer meliputi bibir, dasar hidung, alveolus dan palatum durum dibelahan foramen incisivum 2. Palatum sekunder meliputi palatum durum dan molle posterior terhadap foramen. Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum primer dan palatum sekunder dan dapat unilateral atau bilateral. Kadang-kadang terlihat suatu belahan submukosa, dalam kasus ini mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan otot palatum. B. TANDA DAN GEJALA Ada beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu : 1. Terjadi pemisahan langit – langit 2. Terjadi pemisahan bibir 3. Terjadi pemisahan bibir dan langit – langit. 4. Infeksi telinga berulang. 5. Berat badan tidak bertambah. 6. Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung. C. PENATALAKSANAAN Penanganan untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi ini dilakukan setelah bayi berusia 2 bulan, dengan berat badan yang meningkat, dan bebas dari infeksi oral pada saluran napas dan sistemik. Dalam beberapa buku dikatakan juga untuk melakukan operasi bibir sumbing dilakukan hukum Sepuluh (rules of Ten) yaitu, Berat badan bayi minimal 10 pon, Kadar Hb 10 g%, dan usianya minimal 10 minggu dan kadar leukosit minimal 10.000/ui. 1. Perawatan a. Menyusu ibu Menyusu adalah metode pemberian makan terbaik untuk seorang bayi dengan bibir sumbing tidak menghambat pengahisapan susu ibu. Ibu dapat mencoba sedikit menekan payudara untuk mengeluarkan susu. Dapat juga mnggunakan pompa payudara untuk mengeluarkan susu dan memberikannya kepada bayi dengan menggunakan botol setelah dioperasi, karena bayi tidak menyusu sampai 6 minggu. b. Menggunakan alat khusus 1) Dot domba Karena udara bocor disekitar sumbing dan makanan dimuntahkan melalui hidung, bayi tersebut lebih baik diberi makan dengan dot yang diberi pegangan yang menutupi sumbing, suatu dot domba (dot yang besar, ujung halus dengan lubang besar), atau hanya dot biasa dengan lubang besar. 2) Botol peras Dengan memeras botol, maka susu dapat didorong jatuh di bagian belakang mulut hingga dapat dihisap bayi 3) Ortodonsi Pemberian plat/ dibuat okulator untuk menutup sementara celah palatum agar memudahkan pemberian minum dan sekaligus mengurangi deformitas palatum sebelum dapat dilakukan tindakan bedah definitive c. Posisi mendekati duduk dengan aliran yang langsung menuju bagian sisi atau belakang lidah bayi. d. Tepuk-tepuk punggung bayi berkali-kali karena cenderung untuk menelan banyak udara e. Periksalah bagian bawah hidung dengan teratur, kadang-kadang luka terbentuk pada bagian pemisah lobang hidung f. Suatu kondisi yang sangat sakit dapat membuat bayi menolak menyusu. Jika hal ini terjadi arahkan dot ke bagian sisi mulut untuk memberikan kesempatan pada kulit yang lembut tersebut untuk sembuh g. Setelah siap menyusu, perlahan-lahan bersihkan daerah sumbing dengan alat berujung kapas yang dicelupkan dala hydrogen peroksida setengah kuat atau air. 2. Pengobatan a. Dilakukan bedah elektif yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Bayi akan memperoleh operasi untuk memperbaiki kelainan, tetapi waktu yang tepat untuk operasi tersebut bervariasi. b. Tindakan pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria rule often yaitu umur > 10 mgg, BB > 10 pon/ 5 Kg, Hb > 10 gr/dl, leukosit > 10.000/ui c. Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan/palatoplasti dikerjakan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap seingga pusat bicara otak belum membentuk cara bicara. Pada umur 8-9 tahun dilaksanakan tindakan operasi penambahan tulang pada celah alveolus/maxilla untuk memungkinkan ahli ortodensi mengatur pertumbuhan gigi dikanan dan kiri celah supaya normal. d. Operasi terakhir pada usia 15-17 tahun dikerjakan setelah pertumbuhan tulang-tulang muka mendeteksi selesai. e. Operasi mungkin tidak dapat dilakukan jika anak memiliki “kerusakan horseshoe” yang lbar. Dalam hal ini, suatu kontur seperti balon bicara ditempl pada bagian belakang gigi geligi menutupi nasofaring dan membantu anak bicara yang lebih baik. f. Anak tersebut juga membutuhkan terapi bicara, karena langit-langit sangat penting untuk pembentukan bicara, perubahan struktur, juag pada sumbing yamh telah diperbaik, dapat mempengaruhi pola bicar secara permanen. 3. Prinsip perawatan secara umum; a. Lahir ; bantuan pernafasan dan pemasangan NGT (Naso Gastric Tube) bila perlu untuk membantu masuknya makanan kedalam lambung. b. Umur 1 minggu; pembuatan feeding plate untuk membantu menutup langit-langit dan mengarahkan pertumbuhan, pemberian dot khusus. c. Umur 3 bulan; labioplasty atau tindakan operasi untuk bibir, alanasi (untuk hidung) dan evaluasi telinga. d. Umur 18 bulan - 2 tahun; palathoplasty; tindakan operasi langit-langit bila terdapat sumbing pada langit-langit. e. Umur 4 tahun : dipertimbangkan repalatorapy atau pharingoplasty. f. Umur 6 tahun; evaluasi gigi dan rahang, evaluasi pendengaran. g. Umur 11 tahun; alveolar bone graft augmentation (cangkok tulang pada pinggir alveolar untuk memberikan jalan bagi gigi caninus). perawatan otthodontis. h. Umur 12-13 tahun; final touch; perbaikan-perbaikan bila diperlukan. i. Umur 17-18 tahun; orthognatik surgery bila perlu. 

BAB II ATRESIA ESOFAGUS 

A. PENGERTIAN ATRESIA ESOFAGUS Atresia berarti buntu, dengan demikian atresia esofagus adalah kelainan bawaan di mana ujung saluran esofagus buntu, biasanya sebanyak 60% disertai dengan hidramnion. B. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada penderita atresia esofagus adalah: 1. Liur yang menetes terus-menerus 2. Liur berbuih 3. Bayi tersedak 4. Bayi tampak sianosis akibat aspirasi yang di alami 5. Bayi akan mengalami batuk seperti tercekik saat bayi diberi minum 6. Muntah yang proyektil C. PENATALAKSANAAN 1. Posisikan bayi setengah duduk apabila atresia esofagus disertai fistula. Namun apabila atresia tanpa disertai fistula bayi diposisikan dengan kepala lebih rendah (trendelenburg) dan seringlah mengubah-ubah posisi. 2. Segera lakukan pemasangan kateter ke dalam esofagus dan bila memungkinkan lakukan pengisapan terus menerus. 3. Berikan perawatan seperti bayi normal lainya, seperti pencegahan hipotermi, pemberian nutrisi adekuat, dan lain-lain. 4. Rangsang bayi untuk menangis 5. Lakukan informed consent dan informed choice kepada keluarga untuk melakukan rujukan pada pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.

 BAB III ATRESIA ANI

 A. PENGERTIAN ATRESIA ANI Atresia ani (malformasi anorektal/anus imperforate) adalah bentuk kelainan bawaan yang menunjukan keadaan tidak ada anus, atau tidak sempurnanya bentuk anus. Atresia ini terjadi karena tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang. Penyebab atresia ani ini belum diketahui secara pasti. B. TANDA DAN GEJALA 1. Selama 24-28 jam pertama kelahiran, bayi mengalami muntah-muntah dan tidak ada defekasi mekonium. Selain itu anus tampak merah. 2. Perut kembung baru kemudian disusul muntah. 3. Tampak gambaran gerak usus dan bising usus meningkat (hiperperistaltik) pada auskultasi. 4. Tidak ada lubang anus. 5. Invertogram dilakukan setelah bayi berusia 12 jam untuk menentukan tingginya atresi. 6. Terkadang tampak ileus obstruktif. 7. Dapat terjadi fistel. Pada bayi perempuan sering terjadi fistel rektovaginal. Sedangkan pada bayi laki-laki sering terjadi fistel rektourinal. 8. Untuk mengetahui kelainan pada bayi baru lahir dilakukan colok dubur dengan menggunakan jari kelingking atau dengan tidak keluarnya mekonium dalam 24 jam setelah lahir. C. PENATALAKSANAAN 1. Puasakan bayi dan ganti dengan pemberian cairan intravena sesuai dengan kebutuhan. Misalnya glukosa 5-10% atau Na-Bikarbonat 1,5%. 2. Pembedahan segera dilakukan, setelah tinggi atresia ditentukan. 3. Eksisi membran anal. 4. Kolostomi sementara dan lakukan perbaikan total setelah 3 bulan. 

 DAFTAR PUSTAKA 

 Nanny Lia Dewi, Vivian. 2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika LABIOSKISIS DAN PALATOSKISIS LABIOSKISIS DAN PALATOSKISIS MAKALAH Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah ASKEB NEONATUS, BAYI DAN BALITA Dosen Pengampu : Shinta Ika Sandhi S.Si,T Di Susun Oleh : Siti Nursaidah 10.010 AKADEMI KEBIDANAN SOKO TUNGGAL SEMARANG 2010 

KATA PENGANTAR 

 Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dab Balita tentang Labioskisis dan Palatoskisis. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan bimbingan dari Dosen pengampu dan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : Dosen Mata Kuliah ASKEB Neonatu, Bayi dan Balia, yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin. Semarang, Oktober 2011 Penulis 

 BAB I  PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang Labio / Palato skisis merupakan kongenital yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah (Ngastiah, 2005 : 167)2. Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan embriotik. (Wong, Donna L. 2003)3. Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang terjadi karena kegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (Wong, Donna L. 2003). Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21) Kelainan congenital ini diduga disebabkan karena factor herediter dan factor eksternal. Yang termasuk dalam factor herediter yaitu gilarsi : 75% dari faktor keturunan resesif dan 25% bersifat dominan, mutasi gen dan kelainan kromosom. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor usia ibu,obat-obatan. (Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin, Fenasetin, Sulfonamid, Aminoglikosid, indometasin, Asam Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid), Nutrisi, Penyakit infeksi (sifilis dan rubella), Radiasi,Stres emosional, Trauma, (trimester pertama). B. Tujuan 1. Memenuhi tugas mata kuliah Askep Neonatus Bayi dan Balita. 2. Menambah dan memperluas pengetahuan tentang Labio palato skisis bagi penulis. 3. Memberikan informasi kepada pembaca tentang Labio palato skisis bagi pembaca BAB II LANDASAN TEORI A. Labioskisis dan Labiospalatoskisis a. Pengertian Labio / Palato skisis merupakan kongenital yang berupa adanya kelainan bentuk pada struktur wajah (Ngastiah, 2005 : 167). Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya propsuesus nasal median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan embriotik. (Wong, Donna L. 2003). Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang terjadi karena kegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (Wong, Donna L. 2003). Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut, palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21) b. Klasifikasi • Berdasarkan organ yang terlibat - Celah di bibir (labioskizis) - Celah di gusi (gnatoskizis) - Celah di langit (palatoskizis) - Celah dapat terjadi lebih dari satu organ mis = terjadi di bibir dan langit-langit (labiopalatoskizis) • Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk - Unilateral Incomplete à Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung. - Unilateral complete à Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga ke hidung. - Bilateral complete à Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung. c. Faktor yang mempengaruhi terjadinya bibir sumbing • Factor Genetik atau keturunan Dimana terjadi karena adaya adanya mutasi gen ataupun kelainan kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex ( kromosom 1 s/d 22 ) dan 1 pasang kromosom sex ( kromosom X dan Y ) yang menentukan jenis kelamin. Pada penderita bibir sumbing terjadi Trisomi 13 atau Sindroma Patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel penderita, sehingga jumlah total kromosom pada tiap selnya adalah 47. Jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan menyebabkan gangguan berat pada perkembangan otak, jantung, dan ginjal. Namun kelainan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari 8000-10000 bayi yang lahir. • Kurang Nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C pada waktu hamil, kekurangan asam folat. • Radiasi • Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama. • Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi Rubella dan Sifilis, toxoplasmosis dan klamidia • Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal, akibat toksisitas selama kehamilan, misalnya kecanduan alkohol, terapi penitonin • Multifaktoral dan mutasi genetic • Diplasia ektodermal yaitu dipakai untuk sekelompok kelainan yang secara anatomis maupun fisiologis mengalami kerusakan berbagai struktur, yaitu gigi, kulit beserta apendiksnya, termasuk rambut, kuku, kelenjar ekrin dan kelenjar sebasea d. Tanda dan Gejala Ada beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu : o Terjadi pamisahan Langit-langit o Terjadi pemisahan bibir o Terjadi pemisahan bibir dan langit-langit o Infeksi telinga o Berat badan tidak bertambah o Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung. e. Manifestasi • Pada Labio skisis - Distorsi pada hidung - Tampak sebagian atau keduanya - Adanya celah pada bibir • Pada Palati skisis - Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen incisive. - Ada rongga pada hidung. - Distorsi hidung - Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksadn jari - Kesukaran dalam menghisap/makan. f. Komplikasi • Gangguan bicara • Terjadinya atitis media • Aspirasi • Distress pernafasan • Resiko infeksi saluran nafas • Pertumbuhan dan perkembangan terhambat • Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh atitis media rekureris sekunder akibat disfungsi tuba eustachius. • Masalah gigi • Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan jaringan paruh • Kesulitan makan 

 B. PENATALAKSANAAN 

1. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan bibir sumbing à tindakan bedah efektif yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Adanya kemajuan teknik bedah, orbodantis,dokter anak, dokter THT, serta hasil akhir tindakan koreksi kosmetik dan fungsional menjadi lebih baik. Tergantung dari berat ringan yang ada, maka tindakan bedah maupun ortidentik dilakukan secara bertahap.Biasanya penutupan celah bibir melalui pembedahan dilakukan bila bayi tersebut telah berumur 1-2 bulan. Setelah memperlihatkan penambahan berat badan yang memuaskan dan bebas dari infeksi induk, saluran nafas atau sistemis. Perbedahan ini dapat diperbaiki kembali pada usia 4-5 tahun. Pada kebanyakan kasus, pembedahan pada hidung hendaknya ditunda hingga mencapi usia pubertas. Karena celah-celah pada langit-langit mempunyai ukuran, bentuk danderajat cerat yang cukup besar, maka pada saat pembedahan, perbaikan harus disesuaikan bagi masing-masing penderita. Waktu optimal untuk melakukan pembedahan langit-langit bervariasi dari 6 bulan – 5 tahun. Jika perbaikan pembedahan tertunda hingga berumur 3 tahun, maka sebuah balon bicara dapat dilekatkan pada bagian belakang geligi maksila sehingga kontraksi otot-otot faring dan velfaring dapat menyebabkan jaringan-jaringan bersentuhan dengan balon tadi untuk menghasilkan penutup nasoporing. 2. Penta laksanaan Keperawatan a. Perawatan Pra-Operasi: • Fasilitas penyesuaian yang positif dari orangtua terhadap bayi. - Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka - Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya. - Diskusikan tentang pembedahan - Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang positif terhadap bayi. - Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi. • Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adequate. - Fasilitasi menyusui dengan ASI atau susu formula dengan botol atau dot yang cocok.Monitor atau mengobservasi kemampuan menelan dan menghisap. - Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan aliran susu ke dinding mulut. - Arahkan cairan ke sebalah dalam gusi di dekat lidah. - Sendawkan bayi dengan sering selama pemberian makan - Kaji respon bayi terhadap pemberian susu. - Akhiri pemberian susu dengan air. • Tingkatkan dan pertahankan kepatenan jalan nafas - Pantau status pernafasan - Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan - Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi b. Operasi Tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan. Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang sempurna. Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 – 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Palatoplasty dilakukan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mulai bicara lengkap sehingga pusat bicara di otak belum membentuk cara bicara. Kalau operasi dikerjakan terlambat, sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal atau tidak sangat sulit dicapai. Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak, setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8–9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi / orthodontist. c. Perawatan Pasca-Operasi • Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adequate - Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penetes atau sendok. - Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi. - Lanjutkan dengan diet lunak - Sendawakan bayi selama pemberian makanan. • Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi anak. - Bersihkan garis sutura dengan hati-hati - Oleskan salep antibiotik pada garis sutura (Keiloskisis) - Bilas mulut dengan air sebelum dan sesudah pemberian makan. - Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah pemberian makan untuk mencegah terjadinya aspirasi. - Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik. - Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri. - Perhatikan pendarahan, edema, drainage. - Monitor keutuhan jaringan kulit - Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat tidak steril 

 BAB III PENUTUP

 A. Kesimpulan Bayi lahir spontan dengan usia kehamilan cukup, berat bayi lahir cukup, apgar skore baik, pada saat pemeriksaan awal ditemukan kelainan kongenital labiopatoskisis. Diduga kuat akibat konsumsi obat-obatan sang ibu ketika masa kehamilan. Penatalaksanaan bayi ini seperti penatlaksanaan rutin bayi baru lahir, hanya saja diperlukan konsultasi kepada ahli bedah untuk penanganan selanjutnya. 
B. Saran Mengingat proses penulisan makalah ini kami rasakan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan mendatang.

 DAFTAR PUSTAKA 

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika. Anonim. Labiopaltoskisis. www.scrib.com. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2011 Sjamjuhidayat. DeJong. 2005. BukuAjarIlmuBedah. Jakarta:EGC.

Kamis, 02 Agustus 2012

Tugas bahasa inggris Aries

NE TUGAS SAYA TEMAN" ..SIAPA TAU BERMANFAAT BAGI KALIAN SEMUA ...!!!ARIES_03

  BAB I PENDAHULUAN 

 1.Latar belakang Hal yang menyebab kan noun, adjective, adverb, question, dan number penggunaan to be menjadi bidang kajian bahasa inggris yang penting tidak lainkarena melalui itu semua seseorang dapat menyapaikan maksudnya dengan jelas.Satuan bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada tataran kalimat adalah noun (kata benda), adjective (kata sifat), dan adverb(kata keterangan). ketigabentuk itu, adalah pembelajaran dasar atau struktur dasar yang harus kita pelajarisupaya lebih memahami tata cara berbahasa inggris dengan baik dan lancar. Dan juga dengan questision yang artinya tanya jawab atau mengajukan pertanyaan kepada orang lain, bahkan itu juga sangat penting dalam menggunakan bahasa ingrris sehari-hari. Ada dua jenis numbers dalam bahasa Inggris yaitu cardinal numbers dan ordinal numbers. 
1.2. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini untuk menambah wawasandan ilmu pengetahuan sehingga menambah literatur yang telah ada sehingga dapatdikembangkan menjadi sebuah makalah. 

BAB II PEMBAHASAN ADJECTIVE (KATA SIFAT) 

 ADJECTIVE adalah kata yang digunakan untuk memberi sifat pada benda atau kata yang memberi kekuatan dan untuk membetasi dalam pemakaian kata benda (noun). Adjective bisa ditempatkan sebelum kata benda. Contoh: • This is a beautiful bird. • “This is a bird beautiful.” tidak benar. Kata sifat memberikan informasi seperti ukuran (kecil, besar), bentuk (bulat, persegi), warna (kuning, hijau), kebangsaan (Cina, Polandia), dan opini (baik, buruk). Adjective tidak mengalami perubahan yang tergantung pada jumlah (tunggal atau jamak). Contoh: • She has a cute puppy. • She has three cute puppies. Perhatikan bahwa adjective (cute) tidak mengalami perubahan baik dalam bentuk tunggal (puppy) maupun jamak (puppies). Adjective juga bisa ditempatkan setelah kata kerja tertentu seperti be, feel, look, dan taste. Contoh: • I’m really happy today. • She’s got a new job so she feels great. • You look wonderful! • This chicken tastes delicious. Jenis dari adjective ada 7 macam: I. ADJECTIVE OF QUALITY II. ADJECTIVE OF QUANTITY III. ADJECTIVE OF NUMERAL IV. INTEROGATIVE ADJECTIVE V. DEMONSTRATIVE ADJECTIVE VI. DISTRIBUTIVE ADJECTIVE VII. POSSESSIVE ADJECTIVE Tempat-tempat dari adjective: a. Didepan kata benda (noun) b. Sesudah TO BE (am,is are) c. Sesudah penderita (object) ADJECTIVE OF QUALITY (KATA SIFAT KEADAAN) Adjective of quality adalah kata yang digunakan untuk memberi sifat benda pada keadaan Contoh:  Beautiful :cantik  Brave :berani Adjective of quantity di depan benda Contoh kalimat:  He is foolish boy (dia adalah anak laki-laki bodoh  Carolina is nice girl (carolina adalah gadis yang manis) Adjective of quality sesudah to be (am,is,are) Contoh kalimat:  The man is cruel (orang itu adalah kejam)  The girl is brave (gadis itu bangga) Adjective quantity sesudah penderita (object) Contoh kalimat:  He tell me stupid (dia mengatakan saya bodoh)  We like the drink cool (kami menyukai minuman dingin) ADJECTIVE OF QUANTITY (KATA SIFAT JUMLAH) Adjective of quantity adalah kata yang dipergunakan untuk menunjukan jumlah suatu barang atau benda yang tidak dapat dihitung Contoh:  Much :banyak  Some :beberapa Adjective of quantity di depan benda (noun) Contoh kalimat:  We ate some food at the restaurant (kami memakan beberapa makan di restaura itu)  She has a little oil in the tank (dia mempuyai sedikit minyak di dalam tangki) Adjective of quantity sesudah to be (am,is,are) Contoh kalimat:  The water is much in the drain (air banyak di dalam selokan itu)  My sugar whole brought by her (gula saya selurunya dibawa oleh dia) Adjective of quantity sesudah penderita (object) Contoh kalimat:  He gives much medicine to me (dia memberi obat banyak kepada aya)  She cooks any food to our friends (dia memasak sedikit makanan untuk teman-teman kita) ADJECTIVE OF NUMERAL (KATA SIFAT BILANGAN) Adjective numeral terdiri dari: DEFINITE NUMERAL (bilangan utama) INDEFINITE NUMERAL (bilangan tak tentu) DEFINITE NUMERAL  Cardinal number (bilangan pokok atau utama)  Ordinal number (bilangan urutan,tingkatan,derajat)  Multiplicative (bilangan jumlah perlipat gandaan) CARDINAL NUMBER  1 :one  2 :two  7 :seven Contoh kalimat:  He has two daughter (dia mempunya dua anak perempuan) ORDINAL NUMBER  1st (first)  2rd (second) Contoh kalimat:  it is the second lessen today (itu adalah pelajaran kedua hari ini) MULTIPLICATIVE  a pair :sepasang  double :dobel/dua contoh kalimat:  I had bought a pair of shoes in the shop (saya telah membeli sepasang sepatu dari toko) INTERROGATIVE ADJECTIVE INTERROGATIVE ADJECTIVE ‘WHAT’ INTERROGATIVE ADJECTIVE ‘WHOSE’ INTERROGATIVE ADJECTIVE ‘WHICH’ Syaratnya: Interrogative adjective harus diletakkan langsung kepada kata benda INTERROGATIVE ADJECTIVE ‘WHAT’ Contoh kalimat: What book do you borrow from the cchool library? (buku apa yang kamu pinjam dari perpustakaan sekolah?) INTERROGATIVE ADJECTIVE ‘WHOSE’ Contoh kalimat: Whose house is that beside yours ? (rumah siapa itu yang berada disamping rumah kamu?) INTERROGATIVE ADJECTIVE ‘WHICH’ Contoh kalimat:  Which book is your on the table (buku mana yang kamu punya di atas meja itu) PROPER ADJECTIVE PROPER ADJECTIVE di ambil dari proper noun yang artinya bangsa atau bahasa PROPER NOUN PROPER ADJECTIVE ARTI Indonesian American Indonesia American Bangsa Indonesia Bangsa Amerika Bahasa Indonesia Bahasa Amerika DEMONSTRATIVE ADJECTIVE DEMONSTRATIVE ADJECTIVE kata-kata yang dipergunakan untuk kata ganti penunjuk DEMONSTRATIVE ADJECTIVE:  DEFINITE DEMONSTRATIVE ADJECTIVE bila kata benda (noun) ditunjuk dengan jelas  INDEFINITE DEMONSTRATIVE ADJECTIVE bila kata benda (noun) di tunjuk tidak jelas DEFINITE INDEFINITE Singular Plural Singular Plural The This That Such Another The These Those Such The other A,an Any A certain Any A certain DISTRIBUTIVE ADJECTIVE DISTRIBUTIVE ADJECTIVE kata sifat yang menunjukan satu dari jumlah yang ada DISTRIBUTIVE ADJECTIVE:  Every :tiap-tiap,setiap  Each :tiap-tiap,setiap,masing-masing  Either :salah satu,kedua-duanya,juga,pula  Neither :kedua-duanya,baik…………maupun………tidak Contoh kalimat:  I go to school at seven o’clock every morning (saya berangkat ke sekolah pukul tujuh setiap pagi)  Each child find a glass of milk (tiap-tiap anak mendapat segelas susu)  Either student is given some duty by the teacher (tiap murid di beri beberapa tugas oleh guru)  Neither person is true (tidak ada seorang pun yang benar) PROSSESSIVE ADJECTIVE (KATA GANTI KEPUNYAAN SIFAT) PERSONAL PRONOUN POSSESSIVE SUBJECT OBJECT POSSESSIVE ADJECTIVE POSSESSIVE PRONOUN I YOU WE THEY HE SHE IT ME YOU US THEM HIM HER IT MY YOUR OUR THEIR HIS HER ITS MINE YOURS OURS THEIRS HIS HIS ITS POSSESSIVE ADJECTIVE kata ganti kepunyaan sifat harus diletakkan di depan benda yang dimiliki Contoh kalimat:  His book is put by me on the table (buku dia diletakkan oleh saya di atas meja)  Its tail is cut by the stupid boy (ekornya dipotong oleh anak laki-laki bodoh itu)  Our lesson today is very difficult (pelaajaran kami hari ini adalah sulit) NOUN (KATA BENDA) Noun (kata benda) -suatu kata yang di pergunakan untuk memberi NAMA kepada suatu benda atau barang. Noun di bagi menjadi dua 1. Concrete noun (kata benda yang berwujud) 2. Abstract noun (kata benda yang tidak berwujud) 1.Concrete noun (kata benda yang berwujud)dapat kita kelompokan menjadi empat bagian 1. COMMON NOUN 2. PROPER NOUN 3. COLLECTIVE NOUN 4. MATERIAL NOUN NOUN dapat di bedakan menjadi bagian A. COUNTABLE NOUN (kata benda yang dapat dihitung) B. UNCOUNTABLE NOUN (kata benda yang tidak dapat di hitung) COUNTABLE NOUN dapat di bagi menjadi dua bagian  SINGULAR (kata benda jumlah tunggal)  PLURAL (kata benda jumlah banyak atau jamak) NOUN dari jenis kelamin (GENDER) dapat di bagi menjadi empat: I. MASCULINE GENDER II. FEMININE GENDER III. COMMON GENDER IV. NEUTER GENDER Kedudukan noun didalam kalimat a. The subject of verb (kedudukan noun sebagai subyek dari kata kerja) b. The complement of a verb (kedudukan noun sebagai pelengkap dari kata kerja) c. The obyek of verb (kedudukan noun sebagai obyek dari kata kerja) d. The object of proposition (kedudukan noun sebagai obyek dari kata depan) A.CONCRETE NOUN (KATA BENDA YANG BERWUJUD) I. COMMON NOUN adalah suatu kata yang dipergunakan untuk menunjukan nama dari benda pada umumnya. Contoh:  Cat: kucing  Book: buku  Table: meja II. PROPER NOUN adalah suatu kata yang di pergunakan untuk menunjukan nama orang,nama negeri,negara,kota dan semua kata yang ditulis dengan huruf besar. Contoh:  Susilowaty :nama orang  Surabaya :nama kota III. COLLECTIVE NOUN adalah suatu kata yang di pergunakan untuk menunjukan nama dari sekumpulan atau sekelompok dari common noun.  Group :sekelompok  Gang :kumpulan IV. MATERIAL NOUN adalah suatu kata yang dipergunakan untuk menunjukan benda yang berasal dari bahan baku (bahan mentah). Contoh:  Stone :batu  Gold :emas I. COUNTABLE NOUN Countable noun (benda yang dapat dihitung) dapat di kelompokkan menjadi dua bagian: a. SINGULAR (kata benda bilangan satu atau tunggal) b. PLURAL (kata benda bilangan banyak atau lebih dari satu) Countable noun untuk membentuk bilang jamak (plural) dari kata benda bilangan tunggal pada countable noun antara lain: A. Untuk membentuk bilangan jamak (plural) dari countable noun pada umumnya haya menambahkan ‘S’ saja. Contohnya: Singular plural arti  Pen pens pulpen  Cat cats kucing B. Kata benda yang berakhiran huruf ‘S,SH,CH dan O’ maka untuk membentuk plural hanya ditambah ‘ES’ saja. Contoh:  Glass glasses gelas  Box boxes buku C. Kata benda yang berakhiran huruf ‘Y’ dan didahului dengan huruf mati,maka huruf ‘Y’ diubah menjadi ‘I’ kemudian untuk membentuk plural harus ditambah dengan ‘ES’. Contoh:  Sty sties kandang babi  Fly flies lalat D. Kata benda yang berakhiran dengan huruf Y dan di dahului dengan huruf hidup maka untuk membentuk plural hanya di tambah S. Contoh:  Boy boys anak laki-laki  Day days hari E.

Rasa Rindu ini

Walaupun sebenarnya lebih ke pantung gan… makan brownis minumnya es kelapa di warung bu asih di dekat gua kenangan manis tak kan terlupa kisah kasih kita berdua cuaca dingin jualan tahu.. pergi berlayar ke teluk dalam.. entah kapan sampe ketujuan.. rindu dihati smakin dalam.. entah kapan bisa ketemuan.. pisau belati diasah asah belati di bawa dari cina siang malam hati gelisah teringat abang Jauh disana Bertamasya ke taman ria.. Taman ria dekat Jakarta.. cintaku hanya untuk dirinya.. dan tak akan terganti tuk selamaya.. Pergi ke pasar membeli duku.. Duku dibeli cuma seribu.. Dirimu jauh ku merasa rindu.. Dirimu dekat ku malu malu.. Ayam dibakar di atas bara.. smakin dikipas smakin membara.. Pikiran buntu badan sengsara.. Bila kekasih jauh di mata.. putri raja putri kayangan.. pake mahkota diatas kpala.. rindu suara bisa telponan.. rindu raga harus berjumpa…. Jalan jalan kekota tua.. Dikota tua banyaklah bambu.. Rindu terasa menusuk jiwa.. kemana tempat harus ku mengadu A city is a large community where people are lonesome together. Herbert Prochnow Every time I look at you I get a fierce desire to be lonesome. Oscar Levant Gee, its lonesome in the outfield. It’s hard to keep awake with nothing to do. Babe Ruth Life’s an awfully lonesome affair. You come into the world alone and you go out of the world alone yet it seems to me you are more alone while living than even going and coming. Emily Carr Lonesome. Lonesome. I know what it means. Here all by my lonesome, dreaming empty dreams. Weary. Weary at the close of day, wondering if tomorrow brings me joy or sorrow. Leon Redbone May your trails be crooked, winding, lonesome, dangerous, leading to the most amazing view. May your mountains rise into and above the clouds. Edward Abbey Aku ada di indonesia bunda bunda, kuraharap dirimu baik-baik saja, aku kan pasti berusaha membalas jasa-jasamu, aku merindukanmu Awan putih di langit biru, Burung camar berlega-legar; Kerana kasih kita bertemu, Moga kekal terus bersinar.

Minggu, 15 Juli 2012

karya aRies_03


Sahabat sekalian ne ada hal yang penting bagi saya ataupun sahabat sekalian yang harus kita perhatikan dalam kehidupan kita ..... 1) Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman. 2) Dunia ini umpama lautan yg luas. Kita adalah kapal yg belayar di lautan telah ramai kapal karam didalamnya..andai muatan kita adalah iman, dan laya rnya takwa, nescaya kita akan selamat dari tersesat di lautan hidup ini. 3) Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan. 4) Setiap yang kita lakukan biarlah jujur karena kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan.Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang. 5) Hati yg terluka umpama besi bengkok walau diketuk sukar kembali kepada bentuk asalnya. 6) Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi.Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa.Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu. 7) Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan keamanan.Hidup tanpa peganggan ibarat buih-buih sabun. Bila-bila masa ia akan pecah. 8) Kegagalan dalam kemuliaan lebih baik daripada kejayaan dalam kehinaan. Memberi sedikitdengan ikhlas pula lebih mulia! dari memberi dengan banyak tapi diiringi dengan riak. 9) Kesuksesan dapat kita raih dengan kejujuran n cara kita berhadapan dengan orang yg ada disekitar kita.. 10)Berbuat baik dengan sesama itu wajib kita lakukan sehingga dapat mempelancar dan memper erat tali perasaudaraan kita dalam kehidupan ni.